Sabtu, 14 Agustus 2010

Pemantapan Akidah Tauhid


Tauhid atau mengesakan Allah s.w.t. adalah merupakan pondasi yang paling dasar dari ajaran agama Islam. Karena itu, apabila seorang tauhidnya rusak atau ternoda, maka akan hancurlah segala amal perbuatan atau ibadahnya. Dengan demikian, tauhid dapat menentukan utuh atau rusaknya amal atau ibadah seorang.

Tauhid diambil dari kata wahhada-yuwahhidu-tauhidan, yang artinya adalah mengesakan Allah s.w.t. Allah adalah Tuhan yang Maha Esa yang tidak beranak dan tidak diperanakkan dan tidak ada sesuatupun yang menyerupai-Nya. Karena itu, tauhid merupakan keyakinan yang harus kuat dan membaja dalam diri kita masing-masing. Keyakinan dengan akidah tauhid, tidak boleh tercampur dengan keraguan ataupun kebimbangan, mengenai hal ini Rasulullah s.a.w. bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ مَسْعُوْدٍ قَالَ سَأَلْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الذَّنْبِ أَعْظَمُ عِنْدَ اللَّهِ قَالَ أَنْ تَجْعَلَ لِلَّهِ نِدًّا وَهُوَ خَلَقَكَ قَالَ قُلْتُ لَهُ إِنَّ ذَلِكَ لَعَظِيمٌ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تَقْتُلَ وَلَدَكَ مَخَافَةَ أَنْ يَطْعَمَ مَعَكَ قَالَ قُلْتُ ثُمَّ أَيٌّ قَالَ ثُمَّ أَنْ تُزَانِيَ حَلِيلَةَ جَارِكَ (متفق عليه)

Artinya : Diceritakan dari Abdullah bin Mas'ud r.a.: Aku bertanya kepada Nabi s.a.w. "Dosa apakah yang paling besar di sisi Allah"? Jawab Beliau: "ialah kamu menjadikan sekutu bagi Allah, padahal Dialah yang menciptakanmu". Aku berkata: "Kalau begitu, sungguh itu merupakan dosa yang sangat besar". Kemudian aku bertanya lagi: "Kemudian apa"? Nabi menjawab: "Kamu membunuh anak-anakmu, lantaran kamu takut ia akan makan bersamamu (takut menjadi miskin)". Aku bertanya lagi: "Kemudian apa lagi? Nabi menjawab: "Yaitu kamu menzinahi istri tetanggamu". (HR. Bukhari: 4389, Muslim: 124 )



1. Kata-kata Penting

Lafadz نِدًّا artinya adalah ِمثْلًا persamaan atau tandingan. Sedangkan lafadz عَظِيمٌ artinya agung atau besar. Lafadz حَلِيلَةَ artinya istri atau pasangan.



2. Perbuatan yang Tergolong Dosa Besar

Hadis tersebut di atas menjelaskan kepada kita bahwa ada tiga dosa yang terbesar dari dosa-dosa besar lainnya. Yang pertama adalah (1) menyekutukan Allah, (2) membunuh anak-anak, (3) berzina dengan istri tetangganya.



a. Menyekutukan Allah

Larangan menyekutukan Allah, banyak sekali disebutkan dalam al-Qur'an, karena sesungguhnya Allah adalah Esa, satu-satunya yang harus disembah oleh semua makhluk. Disebutkan dalam firman-Nya:


إِنَّنِي أَنَا اللَّهُ لا إِلَهَ إِلا أَنَا فَاعْبُدْنِي وَأَقِمِ الصَّلاةَ لِذِكْرِي (١٤)

Artinya : “Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada Tuhan (yang hak) selain aku, Maka sembahlah Aku dan dirikanlah shalat untuk mengingat Aku.” (QS. Thaaha [20]: 14)

إِنَّ هَذِهِ أُمَّتُكُمْ أُمَّةً وَاحِدَةً وَأَنَا رَبُّكُمْ فَاعْبُدُونِ (٩٢)

Artinya : “Sesungguhnya (agama Tauhid) ini adalah agama kamu semua; agama yang satu dan Aku adalah Tuhanmu, Maka sembahlah Aku.” (QS. Al Anbiyaa’[21]: 92)

وَمَنْ يَدْعُ مَعَ اللَّهِ إِلَهًا آخَرَ لا بُرْهَانَ لَهُ بِهِ فَإِنَّمَا حِسَابُهُ عِنْدَ رَبِّهِ إِنَّهُ لا يُفْلِحُ الْكَافِرُونَ (١١٧)

Artinya : “Dan barangsiapa menyembah Tuhan yang lain di samping Allah, padahal tidak ada suatu dalilpun baginya tentang itu, Maka Sesungguhnya perhitungannya di sisi Tuhannya. Sesungguhnya orang-orang yang kafir itu tiada beruntung.” (QS. Al Mukminun [23]: 117)


Dari ayat-ayat tersebut di atas, kita bisa mengetahui secara pasti bahwa Allah adalah Dzat yang Maha Esa, yaitu tidak ada yang menyerupai dan menandingi-Nya yang disebut dengan tauhid. Tauhid ini dibagi menjadi tiga bagian, yaitu (1) tauhid uluhiyyah (hanya menyembah kepada Allah saja). (2) tauhid rububiyah (meyakini Allah pencipta alam semesta dan pemelihara semua makhluk-Nya, (3) Tauhid al-Asma' wa al-Sifat, artinya mengesakan asma-asma dan sifat-sifat Allah. Kita mengetahui, bahwa asma-asma (Asma Al-Husna) itu jumlahnya ada 99, namun hakikatnya adalah Esa, semua sifat pada Allah itu tidak sama dengan semua sifat yang ada pada maklhuk. Karena itu, disebut tauhid asma wa sifat (Keesaan Allah dalam sifat dan namanya). Demikian juga dalam kekuasaan-Nya menciptakan, memelihara dan membinasakan alam semesta (kerububiyahan-Nya) tidak ada sesuatu yang ikut berserikat terhadap kekuasaan-kekuasaan tersebut. Disebutkan dalam firman-Nya:

قُلْ مَنْ رَبُّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ قُلِ اللَّهُ

Artinya : Katakanlah: "Siapakah Tuhan langit dan bumi?" Jawabnya: "Allah". )QS. Al Ra'du [13]: 16)

Dalam ayat lain,

رَحْمَةً مِنْ رَبِّكَ إِنَّهُ هُوَ السَّمِيعُ الْعَلِيمُ (٦)رَبِّ السَّمَاوَاتِ وَالأرْضِ وَمَا بَيْنَهُمَا إِنْ كُنْتُمْ مُوقِنِينَ (٧)لا إِلَهَ إِلا هُوَ يُحْيِي وَيُمِيتُ رَبُّكُمْ وَرَبُّ آبَائِكُمُ الأوَّلِينَ (٨)

Artinya : “Sebagai rahmat dari Tuhanmu. Sesungguhnya Dialah yang Maha mendengar lagi Maha mengetahui, Tuhan yang memelihara langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya, jika kamu adalah orang yang meyakini.Tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) melainkan Dia, yang menghidupkan dan yang mematikan (Dialah) Tuhanmu dan Tuhan bapak-bapakmu yang terdahulu.” )QS. Al Dukhan [44]: 6-8)

Ayat-ayat di atas menegaskan kepada kita bahwa, tauhid kita selain uluhiyyah, kita harus juga mempunyai tauhid rububiyah yaitu meyakini penciptaan semua alam dan makhluk adalah Allah s.w.t. tidak ada yang menyamainya.

Dalam hadis Qudsi, yang dinukil oleh Imam Bukhari dari sahabat Ibnu Abbas:

قَالَ اللَّهُ كَذَّبَنِي ابْنُ آدَمَ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ وَشَتَمَنِي وَلَمْ يَكُنْ لَهُ ذَلِكَ فَأَمَّا تَكْذِيبُهُ إِيَّايَ فَزَعَمَ أَنِّي لَا أَقْدِرُ أَنْ أُعِيدَهُ كَمَا كَانَ وَأَمَّا شَتْمُهُ إِيَّايَ فَقَوْلُهُ لِي وَلَدٌ فَسُبْحَانِي أَنْ أَتَّخِذَ صَاحِبَةً أَوْ وَلَدًا

Artinya : Allah berfirman: Bani Adam (manusia) telah mendustakan Aku, padahal ia tidak mempunyai hak yang demikian itu, dan ia memaki-maki Aku, padahal ia tidak mempunyai hak untuk itu. Adapun pendustaan manusia terhadap Aku, ialah menyangka bahwa Aku tidak bisa mengembalikannya seperti semula. Sedangkan makiannya kepada Aku ialah ucapannya kepadaKu bahwa Aku mempunyai anak. Maha suci Aku dari mengambil teman hidup atau mempunyai seorang putra." (HR. Bukhari, No: 4122).

Manakala kita telah meyakini bahwa Allah itu wujud dan qadim, sebelum terwujudnya segala sesuatu, maka pastilah bahwa segala sesuatu yang diciptakan itu merupakan sesuatu yang baru (hadis), bukan qadim lagi, maka mustahil sekali kalau Tuhan itu diciptakan. Manakala kita meyakini bahwa tidak ada sesuatupun yang menyerupai atau menyamai jenisnya, maka batallah anggapan bahwa Allah memerlukan teman hidup atau mempunyai putra.

Oleh karena itu setiap orang yang menyekutukan Allah dalam ke-uluhiyahan-Nya, ke-rububiyahan-Nya, dzat-Nya, sifat-Nya dan af'al-Nya adalah dosa besar.


إِنَّهُ مَنْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ فَقَدْ حَرَّمَ اللَّهُ عَلَيْهِ الْجَنَّةَ وَمَأْوَاهُ النَّارُ

Artinya : “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, Maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka.” (QS. Al Maidah [5]: 72)


b. Membunuh Anak

Kalau kita mengkaji kehidupan manusia pada masa jahiliyyah, kita akan menjumpai kebiasaan sebagaian masyarakat jahiliyyah, yang mengubur anak perempuannya hidup-hidup atau membunuh anak-anaknya, karena takut merepotkan, takut tidak mampu memberikan nafkah (makanan), atau takut menanggung malu, tindakan itu merupakan dosa yang sangat besar. Mungkin dalam kehidupan modern hal seperti ini, tidak dijumpai lagi, namun demikian, masih sering dijumpai pembunuhan anak, pada masa sekarang dengan cara menggugurkan kandungan. Baik yang digugurkan itu, kandungan karena "kecelakaan" (hubungan seks di luar pernikahan), atau kandungan yang tidak dikehendaki oleh pasangan suami istri yang bersangkutan. Tindakan yang seperti itu merupakan dosa yang besar, karena ajaran Islam sangat menghormati kehidupan manusia. Begitu janin sudah terjadi pembuahan antara sperma dan ovum dalam rahim seorang ibu, maka janin itu memiliki hak hidup dan tidak boleh dirusak. Jika merusaknya, berarti telah melakukan dosa yang sangat besar.


c. Berzina dengan Istri Tetangga

Berzina secara umum juga merupakan dosa besar, sedangkan berzina dengan istri tetangga dosanya lebih besar lagi. Mengapa? Karena, (1) seharusnya tetangga itu menjaga dan memelihara hak tetangga yang lain dengan baik. Setiap orang, dalam ajaran Islam diarahkan untuk melindungi tetangganya dan harus saling berbuat baik. Orang yang berani menzinahi tetangganya, berarti ia telah mengkhianati tetangganya. Perbuatan ini merupakan dosa yang sangat tercela. (2) Di samping melakukan perbuatan zina yang dilarang keras, juga mengkhianati dan mendzalimi tetangganya. (3) Larangan ini sangat keras, karena, berzina dengan istri tetangga itu sering tidak diketahui orang lain, sehingga luput dari pandangan manusia secara umum.


3. Kesimpulan:

1. Setiap orang mukmin harus terus menjaga kelestarian akidah tauhid, dengan meng-Esakan Allah s.w.t. Esa dalam wujud-Nya, Esa dalam uluhiyyah-Nya, Esa dalam af'al-Nya, Esa dalam nama dan sifat-Nya, Esa dalam rububiyyah-Nya dan seterusnya. Setiap mukmin tidak boleh mencampuradukkan antara keyakinan dan keragu-raguan dalam iman. Keyakinannya harus murni kepada Allah s.w.t.

2. Larangan melakukan tindakan pembunuhan terhadap sesama umat manusia, meskipun pembunuhan itu dilakukan dengan cara pengguguran kandungan. Itu merupakan dosa yang sangat besar.

3. Setiap orang harus berhati-hati dalam bergaul dengan tetangganya, sehingga tidak melakukan dosa-dosa yang terjadi, yang akan mengkhianati dan sekaligus melakukan dosa besar terhadap Allah s.w.t.

4. Kehati-hatian dalam bergaul harus selalu dijaga, sehingga pergaulan menjadi mulus dan selamat dari perbuatan dosa dan perbuatan tercela lainnya.


Sumber :

 Dr. KH. Zakky Mubarak, MA

http://www.islamic-center.or.id/life-and-style-mainmenu-31/buku-saku/35-buku-saku/1160-pemantapan-akidah-tauhid

5 Agustus 2009


Sumber Gambar:

http://firdaus123.files.wordpress.com/2009/09/allah2.jpg


Langkah-langkah Menguatkan Tauhid

Tauhidullah atau mengesakan Allah dalam segala hal, baik dengan hati, lisan (ucapan), maupun amal perbuatan sehari-hari adalah merupakan inti utama ajaran Islam. Karena, hal itu menjadi inti utama ajaran para Rasul Allah, sejak dari rasul pertama sampai terakhir. Hal ini sejalan dengan firman Allah SWT QS Al-Anbiya: 25, ''Dan Kami tidak mengutus seorang rasul pun sebelum kamu melainkan Kami wahyukan kepadanya: 'Bahwasanya tidak ada Tuhan (yang hak) melainkan Aku, maka sembahlah olehmu sekalian akan Aku'.''

Tauhidullah ini harus termanifestasikan melalui keinginan yang kuat untuk membangun persaudaraan dan menebarkan cita-cita ukhuwah Islamiyyah dalam bingkai wihdatul ummah (kesatuan umat). Sebab, harus disadari bahwa hanya dengan kedua pilar inilah (tauhidullah dan wihdatul ummah), umat Islam tidak akan pernah mendapatkan kehinaan dan kemiskinan kapan dan di manapun berada. Allah SWT berfirman dalam QS Ali Imran: 112, ''Mereka diliputi kehinaan di mana saja mereka berada, kecuali jika mereka berpegang kepada tali (agama) Allah dan tali (perjanjian) dengan manusia ....''

Semua praktik ibadah dalam syariat Islam selalu mencerminkan kedua hal ini. Shalat, sebagai contoh, diawali dengan takbiratul ihram yang bermakna meyakini bahwa tidak ada yang mahabesar kecuali hanya Allah SWT, dan karena itu tidaklah pantas beribadah, ruku, dan sujud kecuali hanya kepada-Nya. Diakhiri dengan salam ke kanan dan kiri yang bermakna menebarkan salam kedamaian bagi semua umat. Karena itu, orang yang shalatnya khusyuk akan semakin rendah hati pada Allah SWT dan semakin mencintai sesama umat yang rukuk dan sujud bersama-sama.

Ibadah puasa yang wajib dilakukan selama bulan Ramadhan maupun puasa sunah lainnya, mencerminkan keikhlasan yang sungguh-sungguh untuk selalu diawasi oleh Allah SWT dalam segala tindakan dan perbuatan. Implementasinya, orang yang berpuasa dengan penuh kesungguhan akan menjadi orang yang jujur dalam hidupnya dan memberikan kebaikan kepada sesamanya.

Bahkan, di akhir bulan Ramadhan, kaum Muslimin diperintahkan untuk membayar zakat fitrah sebagai simbol kepedulian dan perhatian yang penuh terhadap kelompok fakir miskin. Demikian pula ibadah zakat maal lainnya penuh dengan simbolisasi kecintaan kepada sesama umat manusia dan terutama kepada kelompok dhuafa yang sedang mengalami kesulitan dan masalah dalam hidupnya.

Praktik ibadah haji yang merupakan rukun Islam terakhir, yang diawali dengan berpakaian ihram dan diakhiri dengan tahallul, semuanya menggambarkan kecintaan kepada Allah SWT dan kerinduan untuk membangun kesatuan umat dari manapun jamaah haji itu berasal. Predikat haji mabrur, seperti kata para ulama, adalah orang yang kecintaannya kepada Allah SWT menjadi bertambah kokoh dan kedekatan kepada sesama manusia semakin kuat.

Karena itu, penguatan tauhidullah harus disertai dengan penguatan wihdatul ummah, yaitu umat yang menyatu dalam keyakinan, keimanan, dan ibadah kepada Allah SWT, serta memberikan kemanfaatan pada sesama manusia. Wa Allahu a’lam.


Sumber :

KH Didin Hafidhuddin

http://www.republika.co.id/berita/ensiklopedia-islam/hikmah/10/05/28/117518-langkahlangkah-menguatkan-tauhid

28 Mei 2010



Membongkar Kerancuan Dalam Tauhid

Syaikul Islam Muhammad bin Abdul Wahab rahimahullah berkata :”Ketahuilah semoga Allah merahmati anda bahwa tauhid ialah mengesakan Allah dengan beribadah. Inilah dia agama semua Rasul Allah yang diutus untuk para hamba- Nya. Utusan paling pertama adalah adalah Nuh `alaihis-salam 1) yang diutus Allah Ta’ala kapada kaumnya ketika mereka berlaku ghuluw (berlebih-lebihan ) terhadap para ulama sholihin yaitu Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq, serta Nasr “. Makna tauhid menurut syar`i ialah mengesakan Allah dengan cara mempersembahkan segala apa yang khusus menjadi hak Allah; berupa asma`, sifat-sifat, perbuatan-perbuatan dan peribadatan hanya kepada Allah semata, baik secara ilmu maupun secara aqidah (keyakinan).

Tauhid tidak akan menjadi sempurna kecuali jika meliputi dua hal nafi (penolakan) dan itsbat (penetapan) 2) Sebab nafi semata-mata berarti masih mengandung kemungkinan adanya penyekutuan. Pola-pola itsbat serta nafi ini didalam Al-Qur`an terdapat banyak sekali.

Sementara sejumlah ahli ilmu (ulama`) telah mendefinisikan tauhid 3) dalam beberapa pengertian, namun maknanya satu diataranya:

Al Qodhi ‘Iyadh rahimahullah dalam as-Syifa`(1/388) mengatakan:”tauhid ialah menetapkan satu zat yang tidak sama dengan zat-zat lain dan tidak lepas dari sifat-sifat”.

Al-Hafidz Qowam as Sunnah At Taimi al Ashfahani mengatakan: ”At tauhid mengikuti wazan at-taf`il; merupakan mashdar dari wahhada-yuwahhid. Arti wahhad-tullaha yakni: Aku meyakini bahwa hanya ALLAH sendiri yang ESA dalam dzat maupun sifat-sifatnya, tiada sesuatupun yang menyerupainya.”

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimmahullah dalam majmu Fatawanya (4/150) mengatakan: ”Adapun tauhid yang karenanya para utusan Allah diutus dan kitab-kitab Allah diturunkan ialah perintah Allah kepada para hambanya agar beribadah hanya kepada-Nya semata dan tidak menyekutukan (syirik) sesuatupun dengan-Nya, sehingga selain Allah tidak memiliki sebagian kecil pun apa yang menjadi hak khusus Allah berupa peribadatan dengan segala rangkaianya. Ini jika dilihat dari segi pengamalan (amaliyah lahir maupun batin). Adapun jika dilihat dari sisi perkataan maka tauhid ialah iman terhadap suatu sifat yang Allah telah menetapkan bagi diri-Nya dan Rasulullah shallallahu alaihi wa salam telah menetapkan bagi Allah.

Syaikh Abdul Haq Al-Hasyimi rahimmahullah dalam Syarh Kitabit–Tauhid min Shahih Bukhari hal 11 mengatakan Tauhid ialah penetapan ke-Esaan Allah Ta`ala. Dan penetapan sifat-sifatnya dengan cara menafikan (meniadakan) penyerupaan (tasybih) dan ta`thil (penolakan terhadap sifat-sifatNya)”

Selanjutnya diterangkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, bahwa tauhid itu adalah diin (agamanya) para rasul. Mereka diutus untuk membawa din ini.

Rasul Allah paling pertama adalah Nuh alihis-salam, beliau diutus untuk menyeru kaumnya agar mereka mentauhidkan Allah serta mengingatkan mereka supaya jangan menyembah kepada patung: Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nashr.

Sebab-sebab peribadatan mereka terhadap patung-patung itu ialah karena ghuluw (berlebih-lebihan) terhadap orang–orang shalih.

Nama-nama Wadd, Suwa`, Yaghuts, Ya`uq dan Nashar, sebelumnya nama orang-orang shalih yang telah wafat, kemudian mereka dimonumenmtalkan menjadi patung-patuing. Mula-mula tidak disembah, namun ketika zaman menjadi semakin panjang, akhirnya patung-patung innipun disembah.

Karena itulah Nuh ‘alaihi salam mengajak mereka untuk kembali bertauhid kepada Allah dan mengingatkan mereka supaya jangan syirik kepada Allah Azza wa Jalla. Begitu pulalah semua rasul Allah, mereka diutus untuk mengemban prinsip ini, prinsip Tauhidullah.(Al-Anbiya`:25)

Kemudian rasul paling akhir adalah Muhammad shalallahu ‘alaihi wa salam. Beliau inilah yang telah membinasakan patung-patung orang shalih tersebut.

Manakala terjadi Fathul Makkah, ketika beliau masuk Ka`bah, beliau mendapati patung-patung yang jumlahnya mencapai 360 buah patung, terdapat didalam dan disekitar Ka`bah, lalu dihancurkan lah patung–patung itu oleh beliau dengan kampak seraya mengucapkan: “yang benar telah datang dan yang batil telah lenyap, sesungguhnya yang batil itu adalah sesuatu yang pasti lenyap (Al-Isra`:81)

Allah Ta`ala telah (sengaja) mengutus Nabi Muhammad sallahu ‘alaihi wa salam ini ketengah-tengah manusia yang beribadah, berhaji, shadaqoh dan berdzikir (banyak-banyak) kepada Allah, namun bersamaan dengan itu, mereka menjadikan para makluk sebagai wasilah (perantara) yang dianggap bisa menjadi penghubung antara diri mereka dengan Allah. Mereka mengatakan: “Kami menginginkan mereka untuk menjadi wasilah yang mendekatkan diri kami kepada Allah, kami menghendaki syafa`at mereka.”

Begitulah manusia jahiliyah, mereka menyembah patung-patung, kayu-kayu, kuburan-kuburan dan monumen-monumen orang–orang shlih dengan anggapan bahwa apa yang mereka lakukan itu bukanlah peribadatan tetapi hanyalah upaya untuk mendekatkan diri kepada Allah. Allah Ta`ala telah berfirman mengenai meareka:
Kami tidak mnyembah mereka melainkan supaya mereka mendekatkan diri kami kepada Allah dengan sedekat-dekatnya. (Az-Zumar: 3) 4)
Mereka sebenarnya yakin dan mengakui bahwa benda serta patung-patung tesebut tidaklah akan mampu memberikan manfaat atau madharat apapun kepada mereka, hanya saja mereka beranggapan bahwa semua itu adalah pemberi syafa`at kelak disisi Allah. akan tetapi sungguh sayang, syafa`at semacam itu adalah syafa`at yang tiada bermanfaat, sebuah syafaat yang hakikatnya tidak ada, sebeb tiada seorangpun yang bisa memberi syafaat tanpa idzin dari Allah, padahal Allah ta`ala tidak mungkin akan mengijinkan seseorang untuk memberikan syafa`atnya (kelak di hari kiamat) kecuali kepada orang yang diridhai-Nya.

Siapapun yang tidak diridhai oleh Allah baik yang memberi syafa`at maupun yang diberi, maka Allah tidak mungkin memberi izin padanya ubntuk memeri atau mendapat syafa`at. Firman-Nya:
Maka tidak berguna lagibagi mereka syafaat dari orang –orang yang memberi syafaat (Al Mudatsir: 48)
Pada hari itu tidak berguna syafaat, kecuali (syafaat) orang yang Allah –Maha Rahman- telah memberi izin kepadanya, dan Dia telah meridhai perkataannya. (Taha: 109).
Demikianlah, orang-orang Quraisy Jahiliah dahulu banyak melakukan kebaikan, sengang bersadaqah dan suka berhaji di Baitullah, namun segala kebaikan mereka itu tidak bermanfaat sama sekali karena mereka adalah orang-orang kafir, musyrik dan penyembah berhala. Kepada mereka dan kepada orang-orang semisal mereka Nabi shalallahu alaihi wasallam diutus.

Demikianlah, mereka terus menerus berada dalam kekufuran dan kemusydikan, mereka menuhankan malaikat, Isa bin Maryam, orang-orang shalih dan berhala-berhala dengan anggapan bahwa merekalah calon pemberi syafaat di sisi Allah. Maka (sebagaimana dinyatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab), diutuslah Muhammad Shalallahu alaihi wasallam ketengah-tengah mereka guna memperbaharui kembali millah Ibrahim alaihis salam yang telah dirusak oleh tangan-tangan kotor jahiliah. Beliau menegaskan bahwa amaliyyah taqarub (pendekatan diri kepada Allah) dan peribadatan hanyalah menjadi hak mutlak Allah Ta`ala, dengan demikian tidaklah layak sama sekali tindakan taqarub serta peribadatan ini ditujukan kepada selain Allah walaupun kepada seoran malaikat atau seorang nabi, apalagi kepada selain keduanya.

Itulah kemusyrikan mereka, kemusyrikan yang terjadi dalam masalah uluhiyyah. Al Qur`an telah banyak menjelaskan bahwa kemusrikan Quraisy jahiliah dahulu hanyalah terjadi dalam hal peribadatan saja. Adapun secara Rububiyyah maka sebenarnya mereka telah meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya Rabb pencipta segala sesuatu, satu-satunya Dzat Yang Maha mengabulkan do`anya orang yang sedang dalam keadaan kritis dan satu-satunya Dzat Yang Kuasa melepaskan segala marabahaya. Begitu pulalah keyakinan-keyakinan meraka lainnya sebagaimana yang telah disebutkan oleh Allah dalam Al Qur`an Al Karim berkenaan dengan ikrar mereka terhadap Rubbubiyyah Allah. Akan tetapi tetap saja mereka sebatgai orang-orang musyrik secara ubudiyyah, sebab mereka juga melakukan peribadatan kepada selain Allah. Kemusyrikan semacam ini jelas merupakan kemusyrikan yang mengeluarkan seseorang dari keislaman.

Sementara itu pengertian tauhid secara lafzhi ialah menjadikan sesuatu menjadi satu. Jadi mentauhidkan Allah artinya menjadikan segala sesuatu hanya tertuju kepada Allah semata.

Allah Tabaraka wa Ta`ala memiliki hak wajib yang hanya kepada Dia saja hak itu diberikan, dan tidak boleh diberikan kepada selain-Nya. Hak Allah tersebut terbagi menjadi beberapa bagian:
1. Hak pemilikan kekuasaan (Rububiyyah)
2. Hak Peribadatan (Uluhiyyah), dan
3. Hak Asma` wa Shifat.
Jadi seperti yang telah dikatakan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, orang-orang musyrik (Arab dahulu) yang Nabi shalallahu alaihi wasallam diutus ketengah-tengah meraka itu, secara Rububiyyah beriman kepada Allah. Mereka meyakini bahwa Allah adalah satu-satunya pencipta alam semesta dan satu-satunya pemberi rizki, tiada pencipta dan pemberi rizki selain Allah, tiada yang menghidupkan serta mematikan selain Dia, tiada yang mengatur segala urusan alam semesta ini melainkan Dia. Mereka yakin betul bahwa langit-langit yang tujuh serta penghuninya dan bumi yang tujuh beserta segenap isinya adalah hamba bagi Allah dan semuanya berada dalam genggaman serta kekuasaan-Nya.

Banyak sekali ayat Al Qur`an yang menerangkan tentang ikrar mereka terhadap tauhid rububiyyah, tetapi ikrar mereka tersebut tidak memberikan arti apa-apa bagi mereka bagi mereka, sebeb yang mereka ikrarkan hanyalah tauhid rububiyyah belaka. 5) Selamanya, iman terhadap tauhid rububiyyah tidak akan memberi manfaat apapun kepada pelakunya sebelum ia juga berikrar terhadap tauhid uluhiyyah 6) dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah semata.

Ketahuilah bahwa ikrar terhadap tauhid rububiyyah mengandung konsekuensi untuk ikrar terhadap tauhid uluhiyyah, sedangkan ikrar terhadap tauhid uluhiyyah menngandung pengertian ikrar terhadap tauhid rububiyyah. Penjelasanya adalah:

Bahwa macam tauhid yang pertama (rububiyyah) merupakan petunjuk pasti untuk sampai kepada tauhid yang kedua (uluhiyah) yakni ikrar terhadap tauhid rububiyah secara pasti mengharuskan pula untuk ikrar terhadap tauhid uluhiyah sebeb apabila telah diyakini bahwa Allah-lah satu-satunya pencipta dan pengatur segala sesuatu, dan bahwa ditangan-Nyalah segala kekuasaan, maka Dia menjadi wajib untuk disembah dan bukan selain-Nya.

Sedangkan macam tauhid yang kedua (uluhiyah) ketika seseorang telah mengimani, otomatis ia (mestinya) mengimani tauhid yang pertama (rububiyah), sebab tidak ada yang bisa dijadikan Ilah (sesembahan) kecuali Ar Rabb Ta`ala, Dzat yang memiliki sifat Rububiyyah, maha pencipta dan maha pengatur segala urusan.

Dalil-dalil al Qur`an yang menegaskan bahwa orang-orang musyrikin yang diperangi oleh Rasulullah shalallahu ‘alaihi wasallam itu telah mengikrarkan rububiyyah Allah antara lain:
“Katakanlah: Siapakah yang memberi rizki kepadamu dari langit dan dari bumi, atau siapakah yang kuasa (menciptakan) pendengaran dan pengelihatan, dan siapakah yang mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan yang mengeluarkan yang mati dari yang hidup dan siapakah yang mengatur segala urusan? Maka mereka akan menjawab : Allah. Maka katakanlah : mengapa kamu tidak bertakwa( kepada-Nya) ?”(Yunus : 31).

“Katakanlah: Kepunyaan siapakah bumi ini, dan semua yang ada padanya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab : Kepunyaan Allah. Katakanlah : Maka apakah kamu tidak ingat?. Katakanlah : Siapakah yang empunya langit yang tujuh dan yang empunya ‘arsy yang besar? Mereka akan menjawab : kepunyaan Allah. Katakanlah : Maka apakah kamu tidak bertakwa?. Katakanlah : iapakah yang ditangan-Nya berada kekuasaan atas segala sesuatu sedang Dia melindungi, tetapi tidak ada yang dapat dilindungi dari (adzab)-Nya, jika kamu mengetahui? Mereka akan menjawab: Kepunyaan Allah. Katakanlah : Kalau demikian, maka dari jalan manakah kamu ditipu? (Al Mukminun : 84-89).

Dengan demikian adalah amat nyata bahwa kaum musyrikin benar-benar telah mengikrarkan tauhid rububiyah, namun hal itu tidaklah cukup bagi mereka untuk disebut sebagai orang-orang yang bertauhid, dan tidak cukup pula untuk menjadikan terpeliharanya darah serta harta benda mereka.

Dari sini menjadi amat terang pula bahwa barang siapa yang mengingkari tauhid al-ibadah (uluhiyah), maka bukanlah ia termasuk golongan orang muslim, sekalipun ia mengimani rububiyyah Allah.

Itulah kejahilan mereka dalam memahami makna tauhidullah, hingga mereka hanya ikrar terhadap tauhid rububiyyah saja tanpa tauhid uluhiyah, menyebabkan mereka terjerumus dalam peribadatan kepada selain Allah.

________________________________________


Hadits ini dikeluarkan oleh bukhari 6/256; muslim194; dan juga diriwayatkan oleh attirmidzi dan lain-lain
Laa ilaaha: nafi, illallah: itsbat. Maksud semata-semata bererti menolak adanya sesembahan (ilah) secara mutlak , tentu saja ini adalah batil . Sedangkan “itsbat” semata-mata juga berarti masih mungkin mengandung penetapan adanya sesembahan lain selain Allah. Tentu inipun batil (pen).
Lihat catatan kaki dari kitab At-Ta`liqat `Ala Kitab Kasyfisy Syubuhat li Syaikhil Islam Muhammad bin Abdul Wahab, yang dita`liq oleh Syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin
Lihat Fathul Majid Syarh Kitab At-Tauhid
Pengertian tauhid rububiyyah ialah meyakini bahwa hanya Allah-lah satu-satunya Pencipta, Penguasa dan Pengatur segenap urusan.
Pengertain tauhid uluhiyyah adalah : meyakini dan melaksanakan peribadatan hanya kepada Allah semata, yakni dengan cara tidak melakukan peribadatan kepada selain Allah. selanjutnya perlu diketahui bahwa pembagian tauhid menjadi tauhid rububiyah, tauhid uluhiyyah dan tauhid asma` wa shifat adalah berdasarkan tatabbu` (penelitian) yang dilakukan oleh para ulama Islam rahimahullah ketika berbagai macam kemusyrikan bermunculan. (Diambil dari Syarh Kitab at Tauhid karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, dan Syarh Kitab At Tauhid wa Ar Raad ‘ala Al Jahmiyyah Min Shahih al Bukhari, karya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab juga.


Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah berkata : “jika anda telah mengerti apa yang telah aku katakan dengan pengertian yang meresap ke dalam hati,. Telah mengerti arti syirik yang telah dinyatakan oieh Allah Subhanahu Wa Ta`ala dalam firman-Nya (yang artinya):
Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik dan Dia mengampuni dosa selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barang siapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar (An-Nisa’: 48)

Telah mengerti pula din (agama) Allah yang dibawa oleh para rasul dari rasul yang paling pertama hingga rasul terakhir, dan telah mengerti pula kebodohan yang dialami oleh kebanyakan orang tentang ini, maka semua pengertian anda itu akan memberi dua faidah kepada anda:
Pertama:
Kegembiraan karena mendapat karunia serta Allah sebagaimana firman-Nya (yang artinya):
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).
Kedua:
Rasa takut yang besar sebab apabila anda telah memahami bahwa seseorang bisa menjadi kafir disebabkan sebuah kalimat yang keluar dari mulutnya, sedangkan ia mengucapkannya karena kebodohannya, padahal kalimat kufur tersebut tidak termaafkan sebab kejahilannya itu, atau terkadang seseorang mengucapkan kata-kata kufur sedangkan ia menyangka bahwa perkataannya itu merupakan perkataan yang dapat mendekatkan dirinya kepada Allah seperti yang dilakukan oleh orang-orang musyrik. Apalagi jika anda telah memahami berdasarkan petunjuk Allah -kisah tentang (kebodohan) kaumnya Musa `alaihis salam yang berkata kepada beliau seraya berkata- padahal mereka adalah orang-orang shalih dan berilmu- :
“Buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala) yang mereka miliki” (Al-A`raaf: 138)

Pada saat ini (ketika anda telah memahami semua ini –pen), maka rasa takut anda akan menjadi sangat besar dan semangat anda untuk membersihkan diri dari hal-hal semacam di atas pun menjadi besar pula.
Maksudnya apabila anda telah memahami semua perkataan Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di atas, anda telah memahami makna kalimat “la ilaha illallahu” dengan sebenar-benarnya dan anda telah mengerti kebodohan banyak orang terhadap kalimat tersebut, baik kebodohan yang bersifat sederhana maupun kebodohan yang keterlaluan. Maka pemahaman anda itu akan memberi anda dua faidah besar buat anda:

Pertama:
Kegembiraan karena anda mendapat karunia Allah. Hal ini karena dua sisi nikmat sebagai berikut:
Bahwa Allah telah membukakan dan menganugrahkan pemahaman kepada anda hingga anda dapat memahami makna yang benar dari `la ilaha illallahu’
Bahwa anda telah terselamatkan dari kesesatan kebanyakan orang disebabkan kesalahan mereka dalam memahami kalimat tersebut.
Kegembiraan semacam ini yang termasuk diperintahkan Allah dalam firman-Nya (yang artinya:)
Katakanlah: “Dengan karunia Allah dan rahmad-Nya, hendaklah dengan itu mereka bergembira. Karunia Allah dan rahmad-Nya itu adalah lebih baik dari apa yang mereka kumpulkan”. (Yunus: 58).

Sementara itu kegembiraan seseorang karena mendapat nikmat Allah adalah ibadah, dan kegembiraan ini termasuk hal yang terpuji seperti yang diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya) :
Orang-orang yang berpuasa memiliki dua kegembiraan, satu kegembiraan di saat berbuka, dan satu kegembiraan lagi disaat bertemu dengan Rabbnya (dikeluarkan oleh Bukhari: 4/144- Fathul Bari dan Muslim : 8/278)

Rasa takut yang amat besar apabila anda sampai jatuh ke dalam kekufuran kaum musyrikin. Sebab seseorang terkadang mengucapkan kata-kata kufur, padahal kekufuran tersebut tidak termaafkan hanya karena ketidak mengertiannya bahwa itu kufur. Maka jadilah ia orang yang kafir karena kata-kata yang diucapkannya itu sebagaimana telah diterangkan dalam sebuah hadits (yang artinya)
“Sesunggunhnya seseorang berkata dengan suatu kalimat berupa kebencuan terhadap Allah, ia menganggap perkataannya itu tidak mengapa, tetapi dengannya ia terhempas ke dalam neraka (jauhnya) begini dan begini (dalam riwayat lain: (jauhnya/dalamnya) sejauh timur dan barat)(dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Fathul bari: 11/314, dan Muslim hadits no. 17/117 dan lain-lain)
Kita memohon kepada Allah agar kita menjadi orang-orang yang selamat.
Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengingatkan agar hendaknya seorang muslim merasa takut bila dirinya memiliki persangkaan seperti yang dilakukan oleh kaum musyrikin berkenaan dengan makna tauhid; yaitu bahwa tauhid dipahami sebagai: “Hanya Allah-lah satu-satunya Pencipta, Pemberi rizki dan Pengatur”. Oleh karena itu beliau mengingatkan agar hendaknya manusia terus-menerus takut, kemudian disusul dengan selalu mengingat kisahnya kaum nabi Musa `alaihis salam ketika mereka berkata kepada Musa (yang artinya)
“Buatkanlah untuk kami sebuah sesembahan (berhala) sebagaimana sesembahan-sesembahan (berhala) yang mereka miliki” (Al-A’raaf: 138)

Musa menjawab (yang artinya):
“Sesungguhnya kalian ini orang-orang yang bodoh”
” Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang mereka kerjakan” (Al-A’raaf: 139)
Jadi dalam ayat diatas, Musa menjelaskan bahwa permintaan kaumnya agar Musa membuatkan berhala sebagaimana kaum musyrikin mempunyai berhala-berhala merupakan suatu kebodohan. Maka kalau peristiwa itu diingat, niscaya akan menimbulkan rasa takut di hati seseorang apabila dirinya sampai terjatuh ke dalam kesesatan serta kejahilan karena berprasangka bahwa makna `la illaha illallahu’ adalah “tidak ada Pemberi rizki, Pencipta dan pengatur kecuali Allah.

Itulah dia yang dingatkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab dan yang banyak dialami oleh orang-orang ahlul kalam, yaitu orang-orang yang banyak bicara berdasarkan logika tentang Tauhid Rububiyah. Mereka beranggapan bahwa `la illaha illallahu adalah “ tiadaPencipta dan tidak ada Yang Maha Kuasa untuk mencipta kecuali Allah”
Meraka menafsiri kalimat yang agung ini dengan pebafsiran yang salah dan batil, penafsiran yang tidak perbah dikenal seorangpun di kalangan kaum muslimin, bahkan orang-orang musyrik arab dahulunya tidak dikenal penafsiran ini, bahkan orang-orang musyrik Arab dahulu jeuh lebih memahami kaliamt “la illaha illallahu” dibandingkan dengan orang-orang ahlu ilmu kalam.

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab rahimahullah selanjutnya berkata: “Ketahilah bahwa dengan hikmah-Nya, Allah subhanahu wata’ala tidak mengutus seorang nabipun untuk membawa tauhid ini, melainkan Dia ciptakan musuh-musuh yang menentang nabi-Nya tersebut, sebagaimana firman Allah (yang artinya):
Dan demikian kami jadikan bagi tiap-tiap nabi itu musuh, yaitu setan-setan (dari jenis) manusia dan(dari jenis) Jin, sebagian mereka membisikkan kepada sebagian yang lain perkataan-perkataan yang indah-indah untuk menipu (manusia). Jikalau Rabb-mu menghendaki, niscaya mereka tidak mengerjakannya, maka tinggalkanlah mereka dan apa yang mereka ada-adakan (al-An’am: 122)

Dan tidak jarang musuh-musuh nabi Allah itu memiliki banyak ilmu, banyak kitab dan banyak hujjah, seperti yang dinyatakan oleh Allah dalam firman-Nya (yang artinya):
Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul ( yang diutus kepada) mereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka….(al-Mu’min:83)
Disini Rahimahullah mengingatkan adanya satu pelajaran besar, yakni satu diantara hikmah Allah Ta’ala yaitu bahwa setiap kali Dia mengutus nabi-Nya, maka Dia ciptakan pula musuh-musuh penentangnya yang terdiri dari manusia dan jin.

Adanya musuh ini berguna untuk menyaring dan memperjelas kebenaran, sebab setiap kali ada penentang, maka hujjah (bukti kebenaran ) nabi pun akan semakin kuat. Sebaliknya, apabila nabi diutus demikian saja tanpa penentang, akhirnya kebenaran (al haq) yang menjadi misinya tidak akan menjadi jelas, justru dengan adanya penentang itulah akan tejadi penentangan yang bakal mempertegas dan memperjelas al-haq.

Rintangan yang ditetapkan oleh Alah untuk para nabi-Nya ini juga ditetapkan bagi para pengikut mereka. Setiap para pengikut nabi pasti akan menghadapi penentang atau musuh-musuh seperti apa yang pernah dihadapi oleh para nabi, sebagaimana dinyatakan oleh Allah dalam surat al-An’am ayat 112 diatas.

Juga firman Allah (yang artinya) 'Dan seperti itulah, telah Kami adakan bagi tiap-tiap nabi, musuh dari orang yang berdosa. Dan cukuplah Rabbmu menjsadi pemberi petunjuk dan penolong'

Renungkanlah firman Allah pada ayat diatas yang artinya berbunyi: Cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjk dan penolong”
Kalau ayat diatas diperhatikan, orang-orang yang berdosa (penjahat) yang memusuhi para nabi itu, melakukan permusuhannya kepada para rasul melalui dua jalan;
Peragu-raguan (tasykik)
Permusuhan.
Adapun yang berkenaan dengan jalur tasykik (peragu-raguan), maka untuk mengatasinya Allah Ta’ala telah berfirman yang artinya: “Cukuplah Rabb-mu menjadi pemberi petunjuk dan penolong “

Jadi Allah Ta’ala pasti senantiasa memberi petunjuk kepada para rasul dan para pengikut-pengikutnya, dan pasti senantiasa memberi pertolongan kepeda mereka untuk mengalahkan musuh-musuhnya sekalipun musuh itu merupakan musuh yang paling kuat.
Disamping itu yang paling penting untuk diketahui ialah, bahwa seringkali musuh-musuh para rasul itu memiliki ilmu yang banyak, hingga dengan imunya mampu menjadikan kebenaran dan kebatilan kabur di mata manusia. Seperti yang dijelaskan dalam firman Allah (Q.S al-Mu’min:83) (yang artinya) :
Maka tatkala datang kepada mereka rasul-rasul (yang diutus kepada) mmereka dengan membawa keterangan-keterangan, mereka merasa senang dengan pengetahuan yang ada pada mereka dan mereka dikepung oleh adzab Allah yangb selalu mereka perolok-olokkan itu.

Kegembiraan (kebanggaan)yang termaktub dalam ayat ini jelas tercela, sebab ia merupakan kegembiraan yang tidak diridhai oleh Allah. Yang jelas berdasarkan ayat ini, Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab ingin menunjukkan agar seyogyanya setiap muslim mengetahui bahwa banyak diantara musuh Allah yang memiliki ilmu. Dengan pengetahuan ini, seorang muslim hendaknya bersiap diri menggalang bekal untuk menghadapi mereka.
Begitu pula petunjuk yang diberikan rasul shallallahu `alaihi wa sallam ketika beliau mengutus Mu’adz ke Yaman. Beliau bersabda (yang artinya) :
Sesungguhnya kamu akan datang kepada suatu kaum dari kalangan ahli kitab (Bukhari 7/661 dan Muslim : no. 19).
Artinya: Nabi menginginkan agar Mu’adz bersiap-siap menghadapi mereka yang tentunya banyak memiliki hujah, karena mereka adalah ahlul kitab.

Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab mengatakan: “bila anda telah mengerti semua itu dan telah memahami bahwa jalan menuju Allah itu pasti dihadang oleh musuh yang ahli bicara, ahli ilmu dan pandai berhujjah, maka kewajiban anda ialah mempelajari dinullah (secara baik) supaya nanti bisa menjadi senjata yang akan anda gunakan untuk memerangi para syaitan yang dedengkotnya dahulu pernah berkata kepada Allah (berisi ancaman bagi hambanya pen.) yaitu (yang artinya):
Iblis menjawab karena engkau telah menghukum saya tersebut, saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan engkau yang lurus, kemudian saya akan mendatangi mereka dari muka dan dari belakang mereka dari kanan dan kiri mereka. Dan engkau tidak akan mendapati mereka bersyukur(taat) (al-A’raf: 16-17).
Tetapi manakala anda telah menghadapkan muka wajah anda kepada Allah, dan telah mendengarkan hujjah-hujjah dan penjelasan Allah maka anda tak perlu lagi merasa takut dan sedih, (sebab) Allah Ta’ala telah berfirman (yang artinya):
Sesungguhnya tipu daya syaitan adalah lemah. (An-Nisa’: 76)

Yakni apabila anda telah memahami bahwa musuh-musuh Allah tersebut mempunyai banyak kitab dan ilmu pengetahuan yang dengannya bisa digunakan untuk merancukan antara hak dan batil maka anda harus bersiap sedia menghadapi mereka dengan dua hal :
Pertama: seperti diisyaratkan oleh Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab, anda harus memiliki hujjah syar’iyyah dan aqliyah agar bisa melibas hujjah serta kebatilan mereka.
Kedua: Anda harus mengenal kebatilan mereka, supaya anda dapat mengalahkan mereka.
Selanjutnya, seorang muslim tidak perlu takut menghadapi hujjah-hujjah mereka (para musuh tauhid), karena hujjah mereka adalah batil dan itu merupakan tipu daya setan,sedangkan tipu daya setan itu lemah.
Selanjutnya Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menegaskan bahwa seorang awam dari kalangan orang yang bertauhid akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin itu,dasarnya adalah firman Allah Ta’ala (yang artinya):.
”Dan sesungguhnya tentara Kami,betul-betul pasti menang. (Ash-Shaffat: 173).

Yang dimaksudkan dengan satu orang awam dari kalangan orang-orang bertauhid adalah orang yang mengikrarkan tauhid dengan segenap macamnya yang tiga, yaitu tauhid Rububiyah Asma’ was-sifat serta Uluhiyah.(Orang awam menurut pandangan kaum tarekat sufiyah adalah orang yang seperti disebutkan oleh syaikh Muhammad bin Abdul Wahab ini, yaitu orang yang mengikrarkan tiga Tauhid :Uluhiyah, Rububiyah dan asma’ was-sifat. Sebab menurut mereka: tauhid terbagi menjadi tiga peringkat diantaranya (peringkat yang paling rendah): tauhidnya orang-orang awam, yaitu tauhidnya orang yang mengikrarkan tauhid Rububiyah, Uluhiyah dan Asma’ Was-Sifat 1)

Orang awam yang bertauhid ini pasti akan mampu mengalahkan seribu ulama musyrikin, sebab ulama musyrikin tersebut tidak sempurna dalam mentauhidkan Allah, mereka hanya mentauhidkan Rububiyah Allah saja.

Mengimani tauhid rububiyah semata jelas tidak benar, bahkan pada hakekatnya itu bukanlah tauhid yang sebenarnya. Buktinya Nabi Shalallahu `Alaihi Wa Sallam telah telah memerangi musyrikin yang secara rububiyah telah mentauhidkan Allah, namun tauhid semacam ini tidak berguna dan tidak menyebabkan darah serta harta mereka terpelihara

Dengan demikian satu orang awam dari kalangan awam dari kalangan orang yang bertauhid masih lebih baik dari mereka. Karena itulah Allah Ta’ala berfirman (yang artimya):
“Dan sesungguhnya tentara kami betul-betul akan menang”(Ash-Shaffat: 173)
(Jadi orang awam yang bertauhid itu masih merupakan tentara Allah -pen), Tentara Allah ini menang berdasarkan hujjah serta penjelasannya sebagaimana ia juga menang dengan pedang serta anak panahnya. Tentara Allah berjihad fi sabilillah dengan dua cara:

Pertama: Dengan hujjah dan penjelasan; hal ini dilancarkan katika menghadapi kaum munafiqin, orang-orang yang menyembunyikan permusuhan kepada kaum muslimin.
Kedua: berjihad dengan pedang dan anak panah. Ini dilancarkan kepada orang-orang kafir yang secara terang-terangan menyatakan kekufuran dan permusuhannya.
Dua bentuk jihad ini sesuai denga firman Allah (yang artinya):
Maka mereka merasakan akibat yang buruk akibat perbuatannya, dan akibat perbuatan mereka kerugian yang besar. (Ath-Thalaq: 9)

Terkadang jihad dengan hujjah dan penjelasan juga dilakukan kepad kaum kuffar yang terang-terangan menyatakan kekafirannya, sebab orang-orang kafir terseb ut tidak diperangi dengan pedang sebelum tegak alasan untuk itu (belum ada hujjah untuk itu atas mereka).
Jundullah (tentara Allah) adalah hamba-hamba Allah yang membela Allah dan rasul-Nya. Akhirnya Syaikh rahimahullah mengingatkan bahwa yang dikhawatirkan adalah apabila ada seorang yang bertauhid tetapi ia tidak memiliki kesiapan
senjata (hujjah), hingga dikhawatirkan ia akan kalah manakala menghadapi hujjah lawan sehingga menimbulkan fitnah.
Oleh karena itula seyogyanya setiap muslim yang bertauhid senantiasa siap sedia mempersenjatai dirinya dengan ilmu agamanya yang mapan. Wallahu `alamu bish-shawab.
________________________________________
[1] Lihat catatan kaki Ta’liqat `Ala Kitab Kasyfusy Syubhat, hal: 27.
Disadur dari At-Ta’liqot `Ala Kitab Kasyfisy-Sybhat Li Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab, ta’liq syaikh Muhammad bin Shalih Al-Utsaimin, hal: 20-28. by salfyoon.net.


Sumber :

Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab  

http://assunnah-qatar.com/tauhid-artikel-185/654-membongkar-kerancuan-dalam-tauhid.html?start=1

1 Februari 2010

Memahami Tauhid : Syirik dan Penolakan Kepada Tauhid

Barangsiapa menyembah selain Allah berarti ia meletakkan ibadah tidak pada tempatnya dan memberikan kepada yang tidak berhak, dan itu adalah kezhaliman yang paling besar. Allah berfirman,

"Sesungguhnya menyekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar." (Luqman: 13).

Allah tidak akan mengampuni orang musyrik, jika ia meninggal dunia dalam kemusyrikannya. Allah berfirman,
"Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa selain (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendakiNya." (An-Nisa': 48).

Surga pun diharamkan atas orang musyrik. Allah berfirman :
"Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun." (Al-Maidah: 72).

Dan Syirik menghapuskan pahala segala amal kebaikan. Allah berfirman,
"Seandainya mereka menyekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan." (Al-An'am: 88).
"Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabinabi) yang sebelummu, 'Jika kamu menyekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi." (Az-Zumar: 65).

Karena itu, syirik dosa yang paling besar. Rasulullah bersabda,
أَلاَ أُنَبَّئُكُمْ بِأَكْبَرِ الْكَبَائِرِ قُلْنَا : بَلَى يَا رَسُوْلَ اللّهِ قَالَ : الإْشْرَاكُ بِاللّهِ وَعُقُوْقُ الْوَالِدَيْنِ
"Maukah kalian aku beritahukan tentang dosa yang paling besar?" Kami menjawab, "Ya, wahai Rasulullah!" Beliau bersabda, "Berbuat syirik kepada Allah dan durhaka kepada kedua orang tua." (HR. Al Bukhari dan Muslim).
Syirik adalah suatu kekurangan dan aib yang Allah itu menyucikan diri dari keduanya. Karena itu, barangsiapa berbuat syirik kepada Allah berarti dia menetapkan untuk Allah apa yang Dia menyucikan diri dari padanya. Dan ini adalah puncak pembangkangan, kesombongan dan permusuhan kepada Allah.

Syirik sendiri ada dua jenis : Syirik Besar dan Syirik Kecil

Ref : At Tauhid Lish Shaffits Tsalits Al Ali, Dr. Shalih bin Fauzan bin Abdullah al Fauzan


Sumber :

http://rumahislam.com/aqidah/105-syirik/320-syirik-dan-penolakan-tauhid-.html

24 Februari 2009





Hal-hal Yang Merusak Tauhid

Dengan mengucapkan dua kalimat syahadat seseorang berarti telah mempersaksikan diri sebagai hamba Allah semata. Kalimat laa ilaaha illallaahu dan Muhammadur Rasuulullah selalu membekas dalam jiwanya dan menggerakkan anggota tubuhnya agar tidak menyembah selain-Nya. Baginya hanya Allah sebagai Tuhan yang harus ditaati, diikuti ajaran-Nya, dipatuhi perintah-Nya dan dijauhi larangan-Nya. Caranya bagaimana, lihatlah pribadi Rasulullah saw. sebab dialah contoh hamba Allah sejati.

Dalam pembukaan surat Al-Israa’, Allah telah mendeklarasikan bahwa Rasulullah saw. adalah hamba-Nya: Maha Suci Allah, yang telah memperjalankan hamba-Nya pada suatu malam dari Al-Masjidil Haram ke Al-Masjidil Aqsha (Al-Israa’:1). Begitu juga dalam pembukaan surat Al-Kahfi, Allah berfirman: Segala puji bagi Allah yang telah menurunkan kepada hamba-Nya Al-Kitab (Al-Qur’an) dan Dia tidak mengadakan kebengkokan di dalamnya (Al-Kahfi:1).

Ini menunjukkan bahwa agar makna dua kalimat syahadat – yang intinya adalah tauhid – benar-benar tercermin dalam jiwa dan perbuatan, tidak ada pilihan bagi seorang hamba kecuali mencontoh pribadi Rasulullah saw. dalam segala sisi kehidupannya, baik dari sisi aqidah dan ibadah, maupun sisi-sisi lainnya seperti sikapnya terhadap istri dan pelayannya di rumah, pergaulannya bersama-sahabatnya, akhlaqnya dalam melakukan transaksi bisnis dan kepemimpinannya sebagai kepala Negara. Maka untuk menjaga kemurnian tauhid, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw. seorang hamba hendaknya menghindar jauh-jauh dari hal-hal yang merusak kemurnian tauhid sebagai cerminan dua kalimat syahadat tersebut, yang setidaknya ada tiga: (a) Syirik ( menyekutukan Allah (b) Ilhad (menyimpang dari kebenaran) (c) Nifaq (berwajah dua, menampakkan diri sebagai muslim, sementara hatinya kafir).

1. Syirik (menyekutukan Allah)

a). Definisi: Syirik adalah lawan kata dari tauhid. Yaitu sikap menyekutukan Allah secara zat, sifat, perbuatan dan ibadah. Adapun syirik secara zat adalah dengan meyakini bahwa zat Allah seperti zat makhluk-Nya. Aqidah ini dianut oleh kelompok mujassimah. Syirik secara sifat artinya: seseorang meyakini bahwa sifat-sifat makhluk sama dengan sifat-sifat Allah. Dengan kata lain bahwa makhluk mempunyai sifat-sifat seperti sifat-sifat Allah, tidak ada bedanya sama sekali. Syirik secara perbuatan artinya: seseorang meyakini bahwa makhluk mengatur alam semesta dan rezki manusia seperti yang telah diperbuat Allah selama ini. Sedangkan syirik secara ibadah artinya: seseorang menyembah selain Allah dan mengagungkannya seperti mengagungkan Allah serta mencintainya seperti mencintai Allah. Syirik-syirik dalam pengertian tersebut secara eksplisit maupun implisit telah ditolak oleh Islam. karenanya seorang muslim harus benar-benar hat-hati dan menghindar jauh-jauh dari syirik-syirik seperti yang telah diterangkan di atas.

b) Bentuk-bentuk Syirik: Pertama, menyembah patung atau berhala (al ashnaam). Allah swt. dalam surat Al-Hajj:30 berfirman, “maka jauhilah olehmu berhala-berhala yang najis itu dan jauhilah perkataan-perkataan dusta”. Dalam surat Maryam:42 diceritakan bahwa Nabi Ibrahim menegur ayahnya karena menyembah patung: Ingatlah ketika ia berkata kepada bapaknya, “Wahai bapakku, mengapa kamu menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat dan tidak dapat menolong kamu sedikit pun?”

Kedua, menyembah matahari, dalam surat Al-A’raaf:54 Allah menolak orang-orang yang menyembah matahari, bulan dan bintang, “Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang telah menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, lalu Dia bersemayam di atas `Arsy. Dia menutupkan malam kepada siang yang mengikutinya dengan cepat, dan (diciptakan-Nya pula) matahari, bulan dan bintang-bintang (masing-masing) tunduk kepada perintah-Nya. Ingatlah, menciptakan dan memerintah hanyalah hak Allah. Maha Suci Allah, Tuhan semesta alam”. Lalu dalam surat Fushshilat:37 lebih tegas lagi Allah berfirman, “Dan sebagian dari tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah malam, siang, matahari dan bulan. Janganlah bersujud kepada matahari dan janganlah (pula) kepada bulan, tetapi bersujudlah kepada Allah Yang menciptakannya, jika kamu hanya kepada-Nya saja menyembah”.

Ketiga, menyembah malaikat dan jin, dalam surat Al-An’aam:100 Allah berfirman: Dan mereka (orang-orang musyrik) menjadikan jin itu sekutu bagi Allah, padahal Allah-lah yang menciptakan jin-jin itu, dan mereka membohong (dengan mengatakan), “Bahwasanya Allah mempunyai anak laki-laki dan perempuan”, tanpa (berdasar) ilmu pengetahuan. Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari sifat-sifat yang mereka berikan”. Dalam surat Saba’:40-41, “Dan (ingatlah) hari (yang di waktu itu) Allah mengumpulkan mereka semuanya kemudian Allah berfirman kepada malaikat, “Apakah mereka ini dahulu menyembah kamu?”. Malaikat-malaikat itu menjawab, “Maha Suci Engkau. Engkaulah pelindung kami, bukan mereka: bahkan mereka telah menyembah jin; kebanyakan mereka beriman kepada jin itu”.

Keempat, menyembah para nabi, seperti Nabi Isa as. yang disembah kaum Nasrani dan Uzair yang disembah kaum Yahudi. Keduanya sama-sama dianggap anak Allah. Allah berfirman, “Orang-orang Yahudi berkata, “Uzair itu putra Allah” dan orang Nasrani berkata, “Al-Masih itu putra Allah”. Demikian itulah ucapan mereka dengan mulut mereka, mereka meniru perkataan orang-orang kafir yang terdahulu. Dilaknati Allah-lah mereka; bagaimana mereka sampai berpaling?” (At-Taubah:30). Dalam surat Al-Maidah:72, “Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata, “Sesungguhnya Allah adalah Al-Masih putra Maryam”, padahal Al-Masih (sendiri) berkata, “Hai Bani Israel, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”.

Kelima, Menyembah Rahib atau Pendeta, Allah berfirman, “Mereka menjadikan orang-orang alimnya, dan rahib-rahib mereka sebagai tuhan selain Allah, dan (juga mereka mempertuhankan) Al-Masih putra Maryam; padahal mereka hanya disuruh menyembah Tuhan Yang Maha Esa; tidak ada Tuhan (yang berhak disembah) selain Dia. Maha Suci Allah dari apa yang mereka persekutukan”. Adi bin Hatim ra. pernah bertanya kepada Rasulullah mengenai hal tersebut, seraya berkata, “Sebenarnya mereka tidak menyembah Pendeta atau Rahib mereka?” Rasululah saw. menjawab: Benar, tetapi para rahib atau pendeta itu telah mengharamkan yang halal dan menghalalkan yang haram, sementara mereka mengikutinya. Bukankah itu tindak penyembahan terhadap mereka?

Keenam, menyembah Thagut. Istilah thagut diambil dari kata thughyaan artinya melampaui batas. Maksudnya: segala sesuatu yang disembah selain Allah. Setiap seruan para rasul intinya adalah mengajak kepada tauhid dan menjauhi thagut. Allah berfirman, “Dan sesungguhnya Kami telah mengutus rasul pada tiap-tiap umat (untuk menyerukan), “Sembahlah Allah (saja), dan jauhilah Thagut itu”, maka di antara umat itu ada orang-orang yang diberi petunjuk oleh Allah dan ada pula di antaranya orang-orang yang telah pasti kesesatan baginya. Maka berjalanlah kamu di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang mendustakan (rasul-rasul)” (An-Nahl:36). Dan tauhid yang murni tidak akan bisa dicapai tanpa menghindar dari menyembah thagut, Allah berfirman: Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam); sesungguhnya telah jelas jalan yang benar daripada jalan yang sesat. Karena itu barangsiapa yang ingkar kepada Thagut dan beriman kepada Allah, maka sesungguhnya ia telah berpegang kepada buhul tali yang amat kuat yang tidak akan putus. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui (Al-Baqarah:256). Allah bangga dengan orang-orang beriman yang menjauhi thagut, “Dan orang-orang yang menjauhi thagut (yaitu) tidak menyembahnya dan kembali kepada Allah, bagi mereka berita gembira; sebab itu sampaikanlah berita itu kepada hamba-hamba-Ku: (Az Zumar:17).

Ketujuh, menyembah hawa nafsu. Hawa nafsu adalah kecenderungan untuk melakukan keburukan. Seseorang yang menuhankan hawa nafsu ia mengutamakan keinginan nafsunya di atas cintanya kepada Allah. Dengan demikian ia telah mentaati hawa nafsunya dan menyembahnya. Allah berfirman: Terangkanlah kepadaku tentang orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya. Maka apakah kamu dapat menjadi pemelihara atasnya? (Al-Furqaan:43). Dalam surat Al-Jatsiyah:23, “Maka pernahkah kamu melihat orang yang menjadikan hawa nafsunya sebagai tuhannya, dan Allah membiarkannya sesat berdasarkan ilmu-Nya dan Allah telah mengunci mati pendengaran dan hatinya dan meletakkan tutupan atas penglihatannya? Maka siapakah yang akan memberinya petunjuk sesudah Allah (membiarkannya sesat). Maka mengapa kamu tidak mengambil pelajaran?”

c) Macam-macam Syirik: Ada dua macam syirik: (a) Syirik besar (b) syirik kecil. Masing-masing dari kedua macam ini mempunyai dua dimensi: zhahir (nampak) dan khafiy (tersembunyi). Marilah kita bahas satu-satu persatu dari kedua macam syirik tersebut.

Pertama, Syirik besar (Asy Syirkul Akbar), yaitu tindakan menyekutukan Allah dengan makhluk-Nya. Dikatakan syirik besar karena dengannya seseorang tidak akan diampuni dosanya dan tidak akan masuk surga. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (An Nisaa’:116). Ilustarsi syirik besar ini dibagi dua dimensi: dzahir dan khafiy. Yang zhahir bisa dicontohkan seperti menyembah bintang, matahari, bulan, patung-patung, batu-batu, pohon-pohon besar, manusia (seperti menyembah Fir’un, raja-raja, Budha, Isa ibn Maryam, malaikat, Jin dan Syetan. Sementara yang khafiy bisa dicontohkan seperti meminta kepada orang-orang yang sudah mati dengan keyakinan bahwa mereka bisa memenuhi apa yang mereka yakini, atau menjadikan seseorang sebagai pembuat hukum, menghalalkan dan mengharamkan seperti Allah swt.

Kedua, syirik kecil (Asyirkul Ashghar), yaitu suatu tindakan yang mengarah kepada syirik, tetapi belum sampai ketingkat keluar dari tauhid, hanya saja mengurangi kemurnian nya. Syirik Ashghar ini juga dua dimensi: zhahir dan khafiy. Yang zhahir bisa berupa lafal (pernyataan) dan perbuatan. (a) Yang berupa lafal contohnya: bersumpah dengan nama selain Allah dan mengarah ke syirik, seperti pernyataan: demi Nabi, demi Ka’bah, demi Kakek dan Nenek dan lain sebagainya. Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: man halafa bighirillahi faqad kafara wa asyraka (siapa yang bersumpah dengan selain maka ia kafir dan musyrik) (HR. Turmidzi no 1535). Termasuk lafal yang mengarah ke syirik pernyataan: kalau tidak karena Allah dan si fulan niscaya ini tidak akan terjadi, atau memberikan nama seperti abdul ka’bah dan lain sebagainya. (b) Adapun yang berupa perbuatan contohnya: mengalungkan jimat dengan keyakinan bahwa itu bisa menyelamatkan dari mara bahaya dan sebagainya.

Adapun syirik Ashghar yang khafiy, biasanya berupa niat atau keinginan, seperti riya’ dan sum’ah. Yaitu melakukan tindak ketaatan kepada Allah dengan niat ingin dipuji orang dan lain sebagainya. Seperti menegakkan shalat dengan nampak khusyu’ karena sedang di samping calon mertuanya, supaya dipuji sebagai orang saleh, padahal di saat shalat sendirian tidak demikian. Riya’ adalah termasuk dosa hati yang sangat berbahaya. Sebab Islam sangat memperhatikan perbuatan hati sebagai factor yang menentukan bagi baik tidaknya perbuatan zhahir. Allah berfirman, “Hai orang-orang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebut nya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (tidak bertanah). Mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir” (Al-Baqarah:264). Dalam sebuah hadits Rasulullah saw. bersabda: man samma’a sammallahu bihii, waman yraa’ii yraaillahu bihii (Siapa yang menampakkan amalnya dengan maksud riya’ Allah akan menyingkapnya di hari Kiamat, dan siapa yang menunjukkan amal shalehnya dengan maksud ingin dipuji orang, Allah mengeluarkan rahasia tersebut di hari Kiamat (HR. Bukhari:288 dan Muslim no. 2987).

d) Bahaya-bahaya Syirik: Pertama, Syirik adalah kezhaliman yang nyata. Allah berfirman: innasy syirka ladzlumun adziim (sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezhaliman yang besar) (Luqman:13). Mengapa sebab dengan berbuat syirik seseorang telah menjadikan dirinya sebagai hamba makhluk yang sama dengan dirinya, tidak berdaya apa-apa.

Kedua, Syirik merupakan sumber khurafat, sebab orang-orang yang meyakini bahwa selain Allah seperti bintang, matahari, kayu besar dan lain sebagainya bisa memberikan manfaat atau bahaya berarti ia telah siap melakukan segala khurafat dengan mendatangi para dukun, kuburan-kuburan angker dan mengalungkan jimat di lehernya.

Ketiga, Syirik sumber ketakutan dan kesengsaraan, Allah berfirman, “Akan Kami masukkan ke dalam hati orang-orang kafir rasa takut, disebabkan mereka mempersekutukan Allah dengan sesuatu yang Allah sendiri tidak menurunkan keterangan tentang itu. Tempat kembali mereka ialah neraka; dan itulah seburuk-buruk tempat tinggal orang-orang yang zhalim” (Ali Imran:151)

Keempat, Syirik merendahkan derajat kemanusiaan, Allah berfirman, “Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh” (Al-Hajj:31).

Kelima, syirik menghancurkan kecerdasan manusia, Allah berfirman, “Dan mereka menyembah selain daripada Allah apa yang tidak dapat mendatangkan kemudaratan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan, dan mereka berkata, “Mereka itu adalah pemberi syafaat kepada kami di sisi Allah”. Katakanlah, “Apakah kamu mengabarkan kepada Allah apa yang tidak diketahui-Nya baik di langit dan tidak (pula) di bumi?” Maha Suci Allah dan Maha Tinggi dari apa yang mereka mempersekutukan (itu)” (Yunus:18).

Keenam, di akhirat nanti orang-orang musyrik tidak akan mendapatkan ampunan Allah, dan akan masuk neraka selama-lamanya. Allah berfirman, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya” (An Nisaa’:116) Dalam surat Al-Maidah:72, “Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zhalim itu seorang penolong pun”.

e) Sebab-sebab Syirik: Ada beberapa sebab fundamental munculnya syirik: (a) Al-Jahlu (kebodohan). Karenanya masyarakat sebelum datangnya Islam disebut dengan masyarakat jahiliyah. Sebab mereka tidak tahu mana yang benar dan mana yang salah. Dalam kondisi yang penuh dengan kebodohan itu, orang-orang cenderung berbuat syirik. Karenanya semakin jahiliyah suatu kaum, bisa dipastikan kecenderungan berbuat syirik semakin kuat. Dan biasanya di tengah masyarakat jahiliyah para dukun selalu menjadi rujukan utama. Mengapa, sebab mereka bodoh, dan dengan kebodohannya mereka tidak tahu bagaimana seharusnya mengatasi berbagai persoalan yang mereka hadapi. Ujung-ujungnya para dukun sebagai nara sumber yang sangat mereka agungkan.

(b) dhu’ful iimaan (lemahnya iman). Seorang yang lemah imannya cenderung berbuat maksiat. Sebab rasa takut kepada Allah tidak kuat. Lemahnya rasa takut akan dimanfaatkan oleh hawa nafsu untuk menguasai dirinya. Ketika seseorang dibimbing oleh hawa nafsunya maka tidak mustahil ia akan jatuh ke dalam perbuatan-perbuatan syirik, seperti memohon kepada pohonan besar karena ingin segera kaya, datang ke kuburan para wali untuk minta pertolongan agar ia dipilih jadi presiden atau selalu merujuk kepada para dukun untuk supaya penampilannya tetap memikat hati banyak orang dan lain sebagainya.

(c) taqliid (taklid buta). Di dalam Al-Qur’an selalu digambarkan orang-orang yang menyekutukan Allah dengan alasan karena mengikuti jejak nenek moyang mereka. Allah berfirman, “Dan apabila mereka melakukan perbuatan keji, mereka berkata, “Kami mendapati nenek moyang kami mengerjakan yang demikian itu, dan Allah menyuruh kami mengerjakannya. Katakanlah, “Sesungguhnya Allah tidak menyuruh (mengerjakan) perbuatan yang keji.” Mengapa kamu mengada-adakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui?” (Al-A’raf:28). Dalam surat Al-Baqarah:170, “Dan apabila dikatakan kepada mereka, “Ikutilah apa yang telah diturunkan Allah,” mereka menjawab, “(Tidak), tetapi kami hanya mengikuti apa yang telah kami dapati dari (perbuatan) nenek moyang kami”. “(Apakah mereka akan mengikuti juga), walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui suatu apapun, dan tidak mendapat petunjuk?” Dalam surat Al-Maidah:104, “Apabila dikatakan kepada mereka, “Marilah mengikuti apa yang diturunkan Allah dan mengikuti Rasul”. Mereka menjawab, “Cukuplah untuk kami apa yang kami dapati bapak-bapak kami mengerjakannya”. Dan apakah mereka akan mengikuti juga nenek moyang mereka walaupun nenek moyang mereka itu tidak mengetahui apa-apa dan tidak (pula) mendapat petunjuk?

2. Al-Ilhaad (Menyimpang Dari Kebenaran)

Penggunaan istilah al ilhaad dalam Al-Qur’an: Al-Qur’an menggunakan istilah ilhaad di banyak tempat, kadang berbentuk kosa kata yulhiduun sebagaimana berikut: Dalam surat Al-A’raf:
وَلِلَّهِ الْأَسْمَاءُ الْحُسْنَى فَادْعُوهُ بِهَا وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ سَيُجْزَوْنَ مَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

Hanya milik Allah asma-ul husna, maka bermohonlah kepada-Nya dengan menyebut asmaa-ul husna itu dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya. Nanti mereka akan mendapat balasan terhadap apa yang telah mereka kerjakan. Dalam surat An Nahl 10:
وَلَقَدْ نَعْلَمُ أَنَّهُمْ يَقُولُونَ إِنَّمَا يُعَلِّمُهُ بَشَرٌ لِسَانُ الَّذِي يُلْحِدُونَ إِلَيْهِ أَعْجَمِيٌّ وَهَذَا لِسَانٌ عَرَبِيٌّ مُبِينٌ

Dan sesungguhnya Kami mengetahui bahwa mereka berkata, “Sesungguhnya Al-Qur’an itu diajarkan oleh seorang manusia kepadanya (Muhammad)”. Padahal bahasa orang yang mereka tuduhkan (bahwa) Muhammad belajar kepadanya bahasa `Ajam, sedang Al-Qur’an adalah dalam bahasa Arab yang terang. Dalam surat Fushshilat:4:
إِنَّ الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي ءَايَاتِنَا لَا يَخْفَوْنَ عَلَيْنَا أَفَمَنْ يُلْقَى فِي النَّارِ خَيْرٌ أَمْ مَنْ يَأْتِي ءَامِنًا يَوْمَ الْقِيَامَةِ اعْمَلُوا مَا شِئْتُمْ إِنَّهُ بِمَا تَعْمَلُونَ بَصِيرٌ

Sesungguhnya orang-orang yang mengingkari ayat-ayat Kami, mereka tidak tersembunyi dari Kami. Maka apakah orang-orang yang dilemparkan ke dalam neraka lebih baik ataukah orang-orang yang datang dengan aman sentosa pada hari kiamat? Perbuatlah apa yang kamu kehendaki; sesungguhnya Dia Maha Melihat apa yang kamu kerjakan.Kadang berbentuk kosa kata ilhaad, Allah berfirman:
إِنَّ الَّذِينَ كَفَرُوا وَيَصُدُّونَ عَنْ سَبِيلِ اللَّهِ وَالْمَسْجِدِ الْحَرَامِ الَّذِي جَعَلْنَاهُ لِلنَّاسِ سَوَاءً الْعَاكِفُ فِيهِ وَالْبَادِ وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

Sesungguhnya orang-orang yang kafir dan menghalangi manusia dari jalan Allah dan Masjidil haram yang telah Kami jadikan untuk semua manusia, baik yang bermukim di situ maupun di padang pasir dan siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zhalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (Al-Hajj:25) Dan kadang berbentuk kosa kata multahadaa Allah berfirman:
وَاتْلُ مَا أُوحِيَ إِلَيْكَ مِنْ كِتَابِ رَبِّكَ لَا مُبَدِّلَ لِكَلِمَاتِهِ وَلَنْ تَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu, yaitu kitab Tuhan-mu (Al-Qur’an). Tidak ada (seorang pun) yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya. Dan kamu tidak akan dapat menemukan tempat berlindung selain daripada-Nya (Al-Kahfi:27)
قُلْ إِنِّي لَنْ يُجِيرَنِي مِنَ اللَّهِ أَحَدٌ وَلَنْ أَجِدَ مِنْ دُونِهِ مُلْتَحَدًا

Katakanlah, “Sesungguhnya aku sekali-kali tiada seorang pun yang dapat melindungiku dari (azab) Allah dan sekali-kali tiada akan memperoleh tempat berlindung selain daripada-Nya” Al-Jin:22).Arti al ilhaad menurut para ulama: Al-Farra’ mengatakan bahwa kata yulhiduun atau yalhaduun artinya condong kepadanya. Imam Al-Harrani dari Ibn Sikkit mengatakan: al mulhid artinya orang yang menyimpang dari kebenaran, dan memasukkan sesuatu yang lain kepadanya. Dalam Lisanul Arab dikatakan: al ilhaad artinya menyimpang dari maksud yang sebenarnya. Meragukan Allah juga termasuk ilhaad. Dikatakan juga bahwa setiap tindak kezhaliman dalam bahasa Arab disebut ilhaad. Karenanya dalam sebuah riwayat dikatakan bahwa monopoli makanan di tanah haram itu termasul ilhad. Ketika dikatakan laa tulhid fil hayaati itu artinya jangan kau menyimpang dari kebenaran selama hidupmu.

Imam Ashfahani dalam bukunya mufradaat alfadhil Qur’an mengatakan bahwa kata al ilhaad artinya menyimpang dari kebenaran. Dalam hal ini –kata Al-Ashfahani- ada dua makna: Pertama, ilhad yang identik dengan syirik, bila ini dilakukan maka otomatis seseorang menjadi kafir. Kedua, ilhad yang mendekati syirik, ini tidak membuat seseorang menjadi kafir, tetapi setidaknya telah mengurangi kemurnian tauhid nya. Termasuk sikap ini apa yang digambarkan dalam firman Allah:
وَمَنْ يُرِدْ فِيهِ بِإِلْحَادٍ بِظُلْمٍ نُذِقْهُ مِنْ عَذَابٍ أَلِيمٍ

siapa yang bermaksud di dalamnya melakukan kejahatan secara zalim, niscaya akan Kami rasakan kepadanya sebahagian siksa yang pedih (Al-Hajj:25).Dalam menafsirkan ayat
وَذَرُوا الَّذِينَ يُلْحِدُونَ فِي أَسْمَائِهِ

(dan tinggalkanlah orang-orang yang menyimpang dari kebenaran dalam (menyebut) nama-nama-Nya), Imam Al-Ashfahani menyebutkan bahwa ada dua macam dalam ilhaad kepada nama-nama Allah: (a) menyifati Allah dengan sifat-sifat yang tidak pantas disebut sebagai sifat Allah (b) menafsirkan nama-nama Allah dengan makna yang tidak sesuai dengan keagungannya (Lihat Mufradat Alfaadzul Qur’an h.737).

Hakikat Ilhad

berdasarkan keterangan di atas baik ditinjau dari segi bahasa maupun definisi yang disampaikan para ulama nampak bahwa istilah ilhad digunakan untuk segala tindakan yang menyimpang dari kebenaran. Jadi setiap penyimpangan dari kebenaran disebut ilhad. Tetapi secara definitif ia lebih khusus digunakan untuk sikap yang menafikan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah. Dengan kata lain para mulhidun adalah mereka yang tidak percaya adanya sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah.

Berbeda dengan kafir yang di dalamnya bisa berupa pengingkaran kepada Allah, menyekutukan-Nya dan pengingkaran terhadap nikmat-nikmat-Nya. Sementara ilhad lebih kepada pengingkaran sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah saja. Dari sini nampak bahwa tidak setiap kafir ilhad. Karenanya –seperti dikatakan dalam buku Al-Furuuq Al-Lughawiyah- orang-orang Yahudi dan Nasrani sekalipun mereka tergolong kafir, tetapi mereka tidak termasuk mulhiduun. Tetapi setiap tindakan ilhad itu termasuk kafir.

Bahaya-bahaya ilhaad

Pertama, bahwa para ulama sepakat bahwa tauhid mempunyai tiga dimensi: (a) tauhid uluhiyah, (b) tauhid rububiyah (c) tauhid asma’ dan sifat. Karena ilhad adalah tindakan menafikan sifat-sifat, nama-nama dan perbuatan Allah maka dengan melakukan ilhad seseorang telah menghapus satu dimensi dari dimensi tauhid yang sudah baku. Para ulama sepakat bahawa mengingkari salah satu dari dimensi-dimensi tauhid adalah kafir. Karena itu orang-orang mulhid tergolong orang kafir.

Kedua, bahwa dengan menafikan sifat-sifat dan nama-nama Allah berarti ia telah mengingkari ayat-ayat Al-Qur’an yang menegaskan adanya nama-nama dan sifat-sifat Allah. Para ulama sepakat bahwa mengingkari satu ayat dari ayat-ayat Al-Qur’an adalah kafir.

Ketiga, bahwa mengingkari perbuatan Allah berarti mengingkari segala wujud di alam ini sebagai ciptaan-Nya. Bila ini yang diyakini berarti telah mengingkari kekuasaan Allah sebagai Pencipta. Mengingkari kekuasaan Allah adalah kafir.

3. An Nifaaq (Wajahnya Islam, Hatinya Kafir)

Imam Al-Ashfahani menerangkan bahwa an nifaaq diambil dari kata an nafaq artinya jalan tembus. Dalam surat Al-An’aam dikatakan:
وَإِنْ كَانَ كَبُرَ عَلَيْكَ إِعْرَاضُهُمْ فَإِنِ اسْتَطَعْتَ أَنْ تَبْتَغِيَ نَفَقًا فِي الْأَرْضِ أَوْ سُلَّمًا فِي السَّمَاءِ فَتَأْتِيَهُمْ بِآيَةٍ وَلَوْ شَاءَ اللَّهُ لَجَمَعَهُمْ عَلَى الْهُدَى فَلَا تَكُونَنَّ مِنَ الْجَاهِلِينَ

Dan jika perpalingan mereka (darimu) terasa amat berat bagimu, maka jika kamu dapat membuat lubang di bumi atau tangga ke langit lalu kamu dapat mendatangkan mukjizat kepada mereka, (maka buatlah). Kalau Allah menghendaki tentu saja Allah menjadikan mereka semua dalam petunjuk, sebab itu janganlah kamu sekali-kali termasuk orang-orang yang jahil (Al-An’aam:35). Orang Arab berkata: naafaqal yarbu’ binatang yarbu’ telah melakukan nifak, karena ia masuk ke satu lubang lalu keluar dari lubang yang lain. Dalam pengertian ini kata an nifaaq digunakan. Sebab orang-orang munafik ketika bertemu dengan orang-orang Islam mereka suka menampakkan dirinya sebagai seorang muslim, sementara ketika bertemu dengan kawan-kawan mereka sesama kafir, mereka kembali lagi ke wajah mereka yang asli, sebagai orang-orang kafir. Karenanya Allah berfirman, “Sesungguhnya orang-orang munafik itulah orang-orang yang fasik” (At Taubah:67).

Ciri-ciri orang munafik: Di pembukaan surat Al-Baqarah setelah menceritakan ciri-ciri orang-orang beriman dan ciri-ciri orang-orang kafir, Allah lalu menceritakan ciri-ciri orang-orang munafik secara panjang lebar. Ringkasnya sebagai berikut: (a) Di mulut mereka mengatakan beriman kepada Allah dan hari Kiamat, sementara hati mereka kafir (lihat Al-Baqarah:8-10) (b) Ketika dikatakan kepada mereka agar jangan berbuat kerusakan, mereka mengaku berbuat baik(lihat Al-Baqarah:11-12). (c) Ketika bertemu dengan orang-orang beriman mereka menampakkan keimanan, tetapi ketika kembali ke kawan-kawan mereka sesama syaitan mereka kembali kafir. (d) Ibarat orang berbisnis mereka sedang membeli kekafiran dengan keimanan. Sebab setiap saat wajah mereka berganti-ganti tergantung dengan siapa mereka pada saat itu sedang bersama-sama. (e) Ibarat pejalan dalam kegelapan, setiap kali mereka menyalakan obor, seketika obor itu padam kembali. (d) Ibarat orang-orang yang ketakutan mendengarkan petir saat hujan turun, mereka selalu menutup telinga karena takut kebenaran yang disampaikan Rasulullah saw. Masuk ke hati mereka.

Penutup

Demikianlah hal-hal yang merusak kemurnian tauhid (baca: menghancurkan makna dua kalimat syahadat), yang secara singkat setidaknya ada tiga: Syirik, ilhaad dan nifaq. Masing-masing dari komponen tersebut mempunyai tujuan sendiri, hanya saja syirik lebih mengarah kepada sikap menyekutukan Allah, sementara ilhad lebih mengarah kepada sikap menafikan sifat, asma dan perbuatan Allah. Adapun nifaq lebih mengarah kepada penampilan dengan wajah dua. Tetapi ujung-ujungnya adalah kekafiran. Wallahu a’lam bishshawab.


Sumber :

DR. Amir Faishol Fath

http://www.dakwatuna.com/2007/hal-hal-yang-merusak-tauhid/

16 Maret 2007




Mengenal Ilmu Tauhid

Apakah ilmu tauhid itu? Ilmu tauhid adalah ilmu yang membahas pengokohan keyakinan-keyakinan agama Islam dengan dalil-dalil naqli maupun aqli yang pasti kebenarannya sehingga dapat menghilangkan semua keraguan, ilmu yang menyingkap kebatilan orang-orang kafir, kerancuan dan kedustaan mereka. Dengan ilmu tauhid ini, jiwa kita akan kokoh, dan hati pun akan tenang dengan iman. Dinamakan ilmu tauhid karena pembahasan terpenting di dalamnya adalah tentang tauhidullah (mengesakan Allah). Allah swt. berfirman:

أَفَمَن يَعْلَمُ أَنَّمَا أُنزِلَ إِلَيْكَ مِن رَبِّكَ الْحَقُّ كَمَنْ هُوَ أَعْمَى إِنَّمَا يَتَذَكَّرُ أُوْلُواْ الأَلْبَابِ

“Adakah orang yang mengetahui bahwasanya apa yang diturunkan kepadamu dari Tuhanmu itu benar, sama dengan orang yang buta? Hanyalah orang-orang yang berakal saja yang dapat mengambil pelajaran.” (Ar-Ra’d: 19)

Bidang Pembahasan Ilmu Tauhid

Apa saja yang dibahas? Ilmu tauhid membahas enam hal, yaitu:

1. Iman kepada Allah, tauhid kepada-Nya, dan ikhlash beribadah hanya untuk-Nya tanpa sekutu apapun bentuknya.

2. Iman kepada rasul-rasul Allah para pembawa petunjuk ilahi, mengetahui sifat-sifat yang wajib dan pasti ada pada mereka seperti jujur dan amanah, mengetahui sifat-sifat yang mustahil ada pada mereka seperti dusta dan khianat, mengetahui mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan mereka, khususnya mu’jizat dan bukti-bukti kerasulan Nabi Muhammad saw.

3. Iman kepada kitab-kitab yang diturunkan Allah kepada para nabi dan rasul sebagai petunjuk bagi hamba-hamba-Nya sepanjang sejarah manusia yang panjang.

4. Iman kepada malaikat, tugas-tugas yang mereka laksanakan, dan hubungan mereka dengan manusia di dunia dan akhirat.

5. Iman kepada hari akhir, apa saja yang dipersiapkan Allah sebagai balasan bagi orang-orang mukmin (surga) maupun orang-orang kafir (neraka).

6. Iman kepada takdir Allah yang Maha Bijaksana yang mengatur dengan takdir-Nya semua yang ada di alam semesta ini.

Allah swt berfirman:

“آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنزِلَ إِلَيْهِ مِن رَّبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللّهِ وَمَلآئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ

“Rasul telah beriman kepada Al-Qur’an yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” (Al-Baqarah: 285)

Rasulullah saw. ditanya tentang iman, beliau menjawab,

أنْ تُؤْمِنَ بِاللهِ وَمَلاَئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَاليَوْمِ الآخِرِ وَتُؤْمِنَ بِالقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ.

“Iman adalah engkau membenarkan dan meyakini Allah, para malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan taqdir baik maupun buruk.” (HR. Muslim).

Kedudukan Ilmu Tauhid di Antara Semua Ilmu

Kemuliaan suatu ilmu tergantung pada kemulian tema yang dibahasnya. Ilmu kedokteran lebih mulia dari teknik perkayuan karena teknik perkayuan membahas seluk beluk kayu sedangkan kedokteran membahas tubuh manusia. Begitu pula dengan ilmu tauhid, ini ilmu paling mulia karena objek pembahasannya adalah sesuatu yang paling mulia. Adakah yang lebih agung selain Pencipta alam semesta ini? Adakah manusia yang lebih suci daripada para rasul? Adakah yang lebih penting bagi manusia selain mengenal Rabb dan Penciptanya, mengenal tujuan keberadaannya di dunia, untuk apa ia diciptakan, dan bagaimana nasibnya setelah ia mati?

Apalagi ilmu tauhid adalah sumber semua ilmu-ilmu keislaman, sekaligus yang terpenting dan paling utama.

Karena itu, hukum mempelajari ilmu tauhid adalah fardhu ‘ain bagi setiap muslim dan muslimah sampai ia betul-betul memiliki keyakinan dan kepuasan hati serta akal bahwa ia berada di atas agama yang benar. Sedangkan mempelajari lebih dari itu hukumnya fardhu kifayah, artinya jika telah ada yang mengetahui, yang lain tidak berdosa. Allah swt. berfirman,

فَاعْلَمْ أَنَّهُ لَا إِلَهَ إِلَّا اللَّهُ

“Maka ketahuilah, bahwa sesungguhnya tidak ada Tuhan (Yang Haq) melainkan Allah.” (Muhammad: 19)

Al-Quran adalah Kitab Tauhid Terbesar

Sesungguhnya pembahasan utama Al-Quran adalah tauhid. Kita tidak akan menemukan satu halaman pun yang tidak mengandung ajakan untuk beriman kepada Allah, rasul-Nya, atau hari akhir, malaikat, kitab-kitab yang diturunkan Allah, atau taqdir yang diberlakukan bagi alam semesta ini. Bahkan dapat dikatakan bahwa hampir seluruh ayat Al-Quran yang diturunkan sebelum hijrah (ayat-ayat Makkiyyah) berisi tauhid dan yang terkait dengan tauhid.

Karena itu tak heran masalah tauhid menjadi perhatian kaum muslimin sejak dulu, sebagaimana masalah ini menjadi perhatian Al-Quran. Bahkan, tema tauhid adalah tema utama dakwah mereka. Umat Islam sejak dahulu berdakwah mengajak orang kepada agama Allah dengan hikmah dan pelajaran yang baik. Mereka mendakwahkan bukti-bukti kebenaran akidah Islam agar manusia mau beriman kepada akidah yang lurus ini.

Bagi seorang muslim, akidah adalah segala-galanya. Tatkala umat Islam mengabaikan akidah mereka yang benar -yang harus mereka pelajari melalui ilmu tauhid yang didasari oleh bukti-bukti dan dalil yang kuat– mulailah kelemahan masuk ke dalam keyakinan sebagian besar kaum muslimin. Kelemahan akidah akan berakibat pada amal dan produktivitas mereka. Dengan semakin luasnya kerusakan itu, maka orang-orang yang memusuhi Islam akan mudah mengalahkan mereka. Menjajah negeri mereka dan menghinakan mereka di negeri mereka sendiri.

Sejarah membuktikan bahwa umat Islam generasi awal sangat memperhatikan tauhid sehingga mereka mulia dan memimpin dunia. Sejarah juga mengajarkan kepada kita, ketika umat Islam mengabaikannnya akidah, mereka menjadi lemah. Kelemahan perilaku dan amal umat Islam telah memberi kesempatan orang-orang kafir untuk menjajah negeri dan tanah air umat Islam.


Sumber :

http://www.dakwatuna.com/2008/mengenal-ilmu-tauhid/

16 Juli 2008



Tauhid – Mengesakan Allah - Tuhan itu Satu!

Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah.

Seorang Muslim wajib beriman atau mempercayai bahwa Tuhan itu ada. Sebagaimana TV, Mobil, Kulkas, dan lain-lain yang tidak mungkin terjadi dengan sendirinya tanpa ada pembuatnya, begitu pula langit, bumi, bintang, matahari, manusia, dan lain-lain. Tentu ada yang membuatnya, yaitu Allah!

“Kawannya (yang mu’min) berkata kepadanya sedang dia bercakap-cakap dengannya: “Apakah kamu kafir kepada (Tuhan) yang menciptakan kamu dari tanah, kemudian dari setetes air mani, lalu Dia menjadikan kamu seorang laki-laki yang sempurna?” [Al Kahfi:37]

“Allah menciptakan langit dan bumi dengan hak. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda kekuasaan Allah bagi orang-orang mu’min.” [Al ‘Ankabuut:44]

Setelah mempercayai keberadaan Tuhan, ummat Islam wajib beriman bahwa Tuhan itu satu.

Sesungguhnya, Nabi Muhammad SAW diutus Allah dengan misi menyampaikan kalimat Tauhid, yaitu agar manusia menyembah Allah semata dan tidak menyembah sembahan lainnya selain Allah:

“Katakanlah: “Sesungguhnya aku ini hanya seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku: “Bahwa sesungguhnya Tuhan kamu itu adalah Tuhan Yang Esa”.

Barangsiapa mengharap perjumpaan dengan Tuhannya maka hendaklah ia mengerjakan amal yang saleh dan janganlah ia mempersekutukan seorangpun dalam beribadat kepada Tuhannya”.” [Al Kahfi:110]

Nabi-nabi sebelumnya, seperti Nabi Ibrahim juga mengajarkan tauhid kepada ummatnya, yaitu agar hanya menyembah satu Tuhan, yaitu: Allah, dan tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:

“Sesungguhnya Ibrahim adalah seorang imam yang dapat dijadikan teladan lagi patuh kepada Allah dan hanif. Dan sekali-kali bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan (Tuhan),” [An Nahl:120]

“Kemudian Kami wahyukan kepadamu (Muhammad): “Ikutilah agama Ibrahim seorang yang hanif.” dan bukanlah dia termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [An Nahl:123]

Luqman yang saleh pun dalam Al Qur’an diceritakan menasehati agar anaknya tidak mempersekutukan Allah dengan yang lain:

“Dan (ingatlah) ketika Luqman berkata kepada anaknya, di waktu ia memberi pelajaran kepadanya: “Hai anakku, janganlah kamu mempersekutukan (Allah) sesungguhnya mempersekutukan (Allah) adalah benar-benar kezaliman yang besar”.” [Luqman:13]

Seharusnya setiap orang tua mencontoh Luqman untuk menanamkan ajaran Tauhid kepada setiap anaknya.

Dalam Islam, mengesakan Allah adalah rukun yang pertama. Jika seorang masuk Islam, dia harus menyatakan bahwa Tidak ada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusannya:

“Hadis Ibnu Umar r.a: Nabi s.a.w telah bersabda: Islam ditegakkan di atas lima perkara yaitu mengesakan Allah, mendirikan sembahyang, mengeluarkan zakat, berpuasa pada bulan Ramadan dan mengerjakan Haji “ [HR Bukhori-Muslim]

Sesungguhnya Allah adalah Tuhan yang Maha Pencipta:

“Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan.” [Al An’aam:79]

“Segala puji bagi Allah Yang telah menciptakan langit dan bumi, dan mengadakan gelap dan terang, namun orang-orang yang kafir mempersekutukan (sesuatu) dengan Tuhan mereka.” [Al An’aam:1]

Jika ada orang yang menyembah Tuhan selain Allah, misalnya berhala-berhala itu adalah perbuatan yang sia-sia, karena berhala itu bukanlah Tuhan yang Maha Pencipta. Justru berhala itulah yang dibuat oleh manusia:

“Apakah mereka mempersekutukan (Allah dengan) berhala-berhala yang tak dapat menciptakan sesuatupun? Sedangkan berhala-berhala itu sendiri buatan orang.” [Al A’raaf:191]

“Katakanlah: “Mengapa kamu menyembah selain daripada Allah, sesuatu yang tidak dapat memberi mudharat kepadamu dan tidak (pula) memberi manfa`at?” Dan Allah-lah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui.” [Al Maa-idah:76]

Menyembah Yesus atau Isa sebagai Tuhan adalah dosa yang amat besar. Tuhan adalah Pencipta alam semesta, sedang Yesus atau Isa bukanlah pencipta alam semesta. Yesus atau Isa adalah seorang manusia yang dilahirkan dari rahim ibunya, Siti Maryam:

“Sesungguhnya telah kafirlah orang-orang yang berkata: “Sesungguhnya Allah adalah Al Masih putera Maryam”, padahal Al Masih (sendiri) berkata: “Hai Bani Israil, sembahlah Allah Tuhanku dan Tuhanmu” Sesungguhnya orang yang mempersekutukan (sesuatu dengan) Allah, maka pasti Allah mengharamkan kepadanya surga, dan tempatnya ialah neraka, tidaklah ada bagi orang-orang zalim itu seorang penolongpun.” [Al Maa-idah:72]

Sesungguhnya, kafirlah orang yang mengatakan bahwa Tuhan itu bisa beranak dan dilahirkan layaknya manusia, sehingga ada lebih dari 1 Tuhan seperti Tuhan Bapa dan Tuhan Anak. Bagaimana Allah bisa punya anak, padahal dia tidak punya istri? Adakah (na’udzubillah min dzalik!) mereka mengira bahwa Tuhan berzina dengan Maryam sehingga punya anak di luar nikah? Allah SWT membantah kebohongan itu:

“Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu.” [Al An’aam:101]

Dalam surat Al Ikhlas ditegaskan:

“Katakanlah: Allah itu Satu

Allah tempat meminta

Dia tidak beranak dan tidak diperanakan

Dan tak ada satu pun yang setara dengannya” [Al Ikhlas 1-4]

Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan adalah dosa yang amat besar:

“Dengan ikhlas kepada Allah, tidak mempersekutukan sesuatu dengan Dia. Barangsiapa mempersekutukan sesuatu dengan Allah, maka adalah ia seolah-olah jatuh dari langit lalu disambar oleh burung, atau diterbangkan angin ke tempat yang jauh.” [Al Hajj:31]

“Katakanlah: “Adakan perjalanan di muka bumi dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang dahulu. Kebanyakan dari mereka itu adalah orang-orang yang mempersekutukan (Allah)”.” [Ar Ruum:42]

Jelas sekali bukan ayat Al Qur’an di atas bagi orang-orang yang berpikir atau berakal bahwa syirik itu adalah perbuatan sesat dan dosa.

Sesungguhnya syirik atau mempersekutukan Tuhan itu adalah dosa yang tidak

terampuni. Ini adalah perkataan Allah SWT sendiri yang tertulis di dalam kitab suci Al Qur’an:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengampuni dosa syirik, dan Dia mengampuni segala dosa yang selain dari (syirik) itu, bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan Allah, maka sungguh ia telah berbuat dosa yang besar.” [An Nisaa’:48]

“Sesungguhnya Allah tidak mengampuni dosa mempersekutukan (sesuatu) dengan Dia, dan Dia mengampuni dosa yang selain dari syirik itu bagi siapa yang dikehendaki-Nya. Barangsiapa yang mempersekutukan (sesuatu) dengan Allah, maka sesungguhnya ia telah tersesat sejauh-jauhnya.” [An Nisaa’:116]

Jika seseorang melakukan kemusyrikan, maka sia-sialah amalnya meski mereka banyak berbuat hal-hal yang dianggap oleh manusia “baik”:

“Itulah petunjuk Allah, yang dengannya Dia memberi petunjuk kepada siapa yang dikehendaki-Nya di antara hamba-hamba-Nya. Seandainya mereka mempersekutukan Allah, niscaya lenyaplah dari mereka amalan yang telah mereka kerjakan.” [Al An’aam:88]

“Dan sesungguhnya telah diwahyukan kepadamu dan kepada (nabi-nabi) yang sebelummu: “Jika kamu mempersekutukan (Tuhan), niscaya akan hapuslah amalmu dan tentulah kamu termasuk orang-orang yang merugi.” [Az Zumar:65]

“Tidaklah pantas orang-orang musyrik itu memakmurkan mesjid-mesjid Allah, sedang mereka mengakui bahwa mereka sendiri kafir. Itulah orang-orang yang sia-sia pekerjaannya, dan mereka kekal di dalam neraka.” [At Taubah:17]

Sesungguhnya, Tauhid (Mengakui Tuhan itu ada dan satu, yaitu Allah SWT), adalah hal paling penting dan pertama-tama yang harus dipelajari oleh seorang Muslim. Nabi Muhammad SAW selama 13 tahun masa-masa pertama kenabiannya, gigih menyampaikan ajaran Tauhid kepada orang-orang kafir Quraisy, begitu pula setelahnya.

Saya melihat banyak orang yang terlalu fokus pada masalah fikih, tasauf, dan lain-lain, tapi kurang mengkaji masalah Tauhid. Padahal Tauhid ini adalah dasar dari agama Islam. Akibatnya, aqidah ummat Islam jadi lemah. Betapa banyak orang yang sholat, tapi tetap korupsi, betapa banyak orang yang haji tapi tetap berzinah, dan bahkan ada muslimah yang berjilbab, akhirnya nikah dengan orang kafir dan menjadi kafir pula. Banyak orang yang murtad karena kurang beres Tauhid-nya. Itulah jika kita terlalu sibuk pada hal sekunder, sehingga lupa pada hal yang primer: Tauhid!

Wassalamu ‘alaikum wa rohmatullahi wa barokatuhu


Sumber :

http://media-islam.or.id/2007/09/06/tauhid-–-mengesakan-allah/

6 September 2007